Latihan Gabungan TNI 2008

Latihan puncak gabungan (Latgab) TNI 2008 yang diberi Sandi “Yudha Siaga 2008” digelar diperairan Kalimantan Timur mendapat perhatian khusus dari Presiden Susilo Bambang Yudoyono dan sejumlah menteri Kabinet Indonesia bersatu, Komisi I DPR RI, Panglima TNI dan pejabat TNI lainnya, para Athase pertahanan negara-negara sahabat dan beberapa mantan Kasal menyaksikan langsung diatas geladak KRI dr. Soeharso. (Minggu 15/6 ).

Satuan tugas laut dibawah Komando Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) selaku Komandan Sub Komando Tugas Gabungan Amfibi Latihan Gabungan TNI Tahun 2008 dengan melibatkan 43 kapal pemukul bergerak membentuk formasi ”Halong 7”. Formasi ini merupakan formasi kapal-kapal tabir untuk melindungi badan utama dari serangan dan ancaman dari musuh. Hal ini dimaksudkan karena tahap Gerakan Menuju Sasaran (GMS) konvoi kapal tidak tertutup kemungkinan adanya ancaman terhadap konvoi, baik berupa kapal selam, kapal permukaan dan pesawat udara musuh.

Dalam aksi ini salah satu kapal dalam konvoi KRI Fatahillah-361 melalui alat deteksi bawah air Sonar PHS-32 berhasil mengidentifikasi kehadiran sebuah kapal selam tak dikenal mendekat kearah konvoi. Laporan ini diperkuat dengan laporan pengamatan visual oleh pesawat patroli maritim TNI AL yang dengan segera memberikan laporan kepada konvoi kapal.

Dari komunikasi taktis diketahui nama sandi kontak kapal selam dalam bahasa koordinasi hasil analisa Pusat informasi tempur yang ada di konvoi kapal. Setelah diketahui dan berhasil mengidentifikasi kapal selam tersebut maka KRI Nala-363 selaku koordinator peperangan anti kapal selam merubah klasifikasi kapal selam menjadi musuh.

Dengan kehadiran kapal selam ini maka KRI Nala-363 menaikan derajat kesiagaan dengan menugaskan 2 atau lebih kapal untuk melaksanakan SAU (Search Attack Unit) atau UCB (Unsur Cari Binasa), dimana perwira komando taktis merubah taktis formasi untuk keluar dari LLA (Limiting Line of Approash) atau biasa dikenal dengan garis bahaya pendekatan dari kapal selam musuh, selanjutnya KRI Fatahillah-361 dan KRI Nala-363 melaksanakan Urgent Attack (serangan mendadak terhadap kapal selam musuh, dengan menembakkan senjata ASROC (Anti Submarine Rocet) atau biasa dikenal dengan (Roket Anti Kapal Selam).

Roket Anti Kapal Selam merupakan senjata strategis yang dimiliki KRI Fatahillah-361 dengan jarak luncur antara 1600 yard sampai dengan 3600 yard dan akan meledak dibawah permukaan laut pada seting kedalaman yang ditentukan. Ledakan Roket Anti Kapal Selam ini akan memberikan efek tekanan kejut yang sangat tinggi sehingga mampu menghancurkan kapal selam yang ada di kedalaman laut.

Usai melakukan serangan KRI Fatahillah-361 dan KRI Nala-363 bergerak membentuk formasi “Y” yang merupakan formasi kapal-kapal unsur cari binasa dalam menghadapi kapal selam, dengan menggunakan Gas Turbin kedua KRI bergerak dengan kecepatan maksimum dan siap kembali meluncurkan Roket Anti Kapal Selam.

Sementara melalui komunikasi taktis KRI Cut Nyak Din-375 mengirim informasi bahwa kembali telah mendeteksi kontak kapal selam musuh di lambung kanan konvoi selanjutnya koordinator anti peperangan kapal selam segera menugaskan 3 KRI yaitu KRI Cut Nyakdin-375, KRI Teuku Umar-385 dan KRI Ciptadi-881, untuk melaksanakan serangan mendadak terhadap kapal selam tersebut, dengan menggunakan senjata pemukul Roket Bom Laut RBU 6000

Ketiga kapal tersebut merupakan KRI tipe Perusak Kawal dan kapal ini merupakan mengemban fungsi asasinya sebagai anti kapal permukaan, anti kapal selam, dan pertahanan udara dilengkapi dengan berbagai persenjataan antara lain Meriam kaliber 57 mm, senjata anti kapal permukaan, Rocet Bom Laut RBU 6000 dan Bom Laut B-1, senjata pertahanan udara dengan menggunakan Roket Strela, Meriam 30mm dan 20mm kapal jenis ini merupakan kapal yang dapat digunakan sebagai penyebar ranjau laut dilengkapi dengan 2 rel peluncur ranjau.

Sementara dari laporan intelijen diperoleh informasi kehadiran 2 kapal perang musuh berpeluru kendali dan kapal cepat akan menghambat gerakan konvoi ke Daerah Sasaran Amfibi, maka dalam taktik peperangan anti kapal permukaan disiapkanlah bentuk serangan untuk menghancurkan kekuatan musuh berupa pukulan pendahuluan, pukulan pokok dan pukulan lanjutan.

Berdasarkan pengamatan visual dari pesawat udara diketahui kehadiran 2 kapal perang musuh yang mendekati konvoi dari arah timur dan dari arah barat laut, dari hasil identifikasi dan pengenalan, kapal yang berada disebelah timur adalah jenis PKR (Perusak Kawal berpeluru kendali) dari negara musuh. Dengan senjata peluru kendali anti kapal permukaan kapal ini merupakan ancaman yang berbahaya bagi konvoi KRI, lebih-lebih salah satu kapal musuh telah mendekat dari arah barat laut adalah jenis kapal cepat yang memiliki meriam anti kapal permukaan.

KRI Fatahillah-361 selaku koordinator peperangan anti kapal permukaan meningkatkan derajat kesiagaan merah untuk ancaman permukaan dan udara. Dan memerintahkan KRI Layang-805 dan KRI Hiu-804 untuk melaksanakan penghancuran, sasaran musuh yang berada di arah timur konvoi akan dihancurkan dengan peluru kendali C-802 yang dimiliki oleh KRI Layang-805 dan torpedo SUT dari kapal selam KRI Cakra-401.

Kapal perang musuh yang menjadi sasaran tembak ini adalah eks KRI Karang Galang yang telah pensiun dari pengabdiannya sebagai Kapal Perang TNI AL. Sasaranpun hancur lebur tatkala secara bersamaan rudal C-802 yang ditembakkan dari KRI Layang-805 dan Torpedo SUT yang ditembakkan dari Kapal Selam KRI Cakra-402 secara bersamaan menghantam sasaran yang mengakibatkan kapal tenggelam.

Dari akurasi penembakan kedua senjata strategis Kapal Perang TNI AL tersebut Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono dan sejumlah Menteri Kabinet Indonesia Bersatu serta berbagai tamu Athase pertahanan negara Sahabat, para petinggi TNI dan mantan Kasal yang berada diatas KRI dr. Soeharso yang menyaksikan jalannya latihan tersebut memberikan applus terhadap ketepatan dan akurasi tembakan tersebut, kedasyatan senjata-senjata pamungkas yang dimiliki Kapal Perang Indonesia membuktikan bahwa mesin-mesin perang TNI AL siap mengamankan dan mempertahankan setiap jengkal wilayah NKRI dari setiap ancaman.

Peluru kendali C-802 merupakan peluru kendali terbaru yang dimiliki oleh TNI AL dengan kemampuan jarak tembak maksimum mencapai 120 km, sedangkan Torpedo SUT (Surface and Under Water Torpedo) merupakan senjata andalan kapal selam sebagai Torpedo anti kapal permukaan dan anti kapal selam dan senjata ini momok menakutkan dari kapal atas air.

Usai menyaksikan jalannya aksi pertempuran laut Presiden RI Susilo Bambang Yudoyono beserta para undangan dengan menggunakan KRI dr. Soeharso bergerak menuju pantai pendaratan Ampfibi di pantai Sekerat Sangatta Kalimantan Timur untuk selanjutnya pada pukul 04.30 dini hari waktu Indonesia bagian tengah akan menyaksikan langsung pendaratan Amfibi pasukan TNI yang melibatkan berbagai jenis Tank dan persenjataan berat yang dimiliki TNI untuk merebut kembali daerah yang dikuasai musuh.

RUDAL – 802

– Merupakan rudal anti kapal permukaan buatan China.

– Panjang misil 6, 383 meter, berat 705 kg (165 kg diantaranya hulu ledak TNT 7 RDX), diameter 36 cm, mempunyai sayap (wing span) 1,22 meter.

– Sistem penggerak berupa Solid Rocket Booster & Turbo Jet.

– Jangkauan tembakan maksimum 120 km.

– Fire Power hulu ledak rudal ini mampu menghancurkan sebuah kapal perang type Destroyer bertonase 3000 ton.

– Ketika ditembakan dari KRI Layang-805 rudal akan melesat membentuk sudut 30 derajat ke udara dengan ketinggian 20 meter, dengan kecepatan 0,8 kali kecepatan suara (800 km per jam). Setelah mencapai ketinggian 20 meter, rudal akan meluncur di atas permukaan laut dan melintas mendatar, namun 5 km menjelang target kapal musuh, rudal akan menukik dan melintas pada ketinggian 5 m di atas permukaan laut sebelum menghancurkan sasaran.

– Total waktu yang diperlukan ketika KRI Layang-805 menembak target eks KRI Karang Galang yang berjarak 60 km adalah 3 menit 12 detik dan berhasil mengenai sasaran hingga tenggelam. Sedangkan penembakan tersebut dilaksanakan pada pukul 16.35 WITA.

PENEMBAKAN RUDAL MALAM HARI

Pada malam harinya Presiden akan menyaksikan penembakan rudal. Sebanyak 18 KRI akan melaksanakan penembakan rudal AAROFEX (Anti Air Rapid Open Fire Exercise = rudal anti serangan udara) dengan sasaran diperumpamakan pesawat musuh yang terbang pada malam hari.

(sumber : http://www.tnial.mil.id)

Presiden Senang Saksikan Latgab TNI 2008

Sangatta, Minggu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terlihat senang ketika menyaksikan aksi tempur laut dan udara di latihan gabungan (Latgab) TNI 2008. Beberapa kali Presiden Yudhoyono terlihat tersenyum dan mengangguk-angguk seusai melihat setiap aksi tempur.

Beberapa kali Presiden meminta dan mendapat penjelasan, baik kepada Panglima TNI Djoko Santoso maupun Kepala Staf TNI-AL Laksamana Sumarjono. Presiden kemudian mengangguk-angguk, tersenyum dan terkadang serius melihat dan mendengarkan penjelasan.

Sebagai ungkapan rasa senangnya menyaksikan aksi tempur laut, Presiden Yudhoyono malah menyempatkan diri mengajak putranya Lettu (Inf) Agus Harry Murti berfoto berdua di sudut anjungan kapal diabadikan sejumlah fotografer. Beberapa kali, sejumlah fotografer juga meminta Presiden tersenyum.

Presiden Yudhoyono sendiri hingga Minggu (15/6) malam, belum memberikan pernyataan kepada pers terkait Latgab TNI 2008 ini. Direncanakan, Presiden Yudhoyono baru, Senin (16/6) pagi, melakukan hal tersebut.

Selama menyaksikan Latgab TNI 2008, Presiden didampingi Menko Politik, Hukum dan Keamanan Widodo AS, Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi dan Kepala Badan Intelijen Negara (OBIN) Sjamsir Siregar serta Kepala Polri Jenderal (Pol) Sutanto.

Sementara, Ketua Komisi I DPR Theo Sambuaga menyatakan, sekalipun anggaran pemerintah terbatas, namun TNI harus diupayakan untuk terus berlatih secara rutin. “Untuk Latgab TNI seperti ini, minimal TNI harus berlatih setiap tiga tahun sekali. Latihan seperti itu penting, selain untuk meningkatkan profesionalitas, juga untuk kesiapan tempur dan kesiapan menggunakan peralatan serta persenjataan. Jadi, meskipun minimal, latihan harus rutin dilaksanakan TNI,” ujar Theo.

(Sumber : http://www.kompas.com)

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s